Library Digital : Kina People
Library Digital : Kina People
  • Home
  • Kina's
  • GalKin's
  • Sitemap
  • Pustaka
    • Esai
      • Literasi Bangsa
      • Literasi Anak
    • Buku
      • Fiksi
      • Non-Fiksi
    • Audiobook
    • Sisi lain kina

Max Havelaar - Multatuli


PengarangMultatuli
Judul asliMax Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij
PenerjemahHB Jassin
NegaraBendera Belanda Hindia Belanda
BahasaBahasa Belanda
Bahasa Indonesia (1972)
GenreNovel
Tanggal rilis1860 (Hindia Belanda)
1972 (Bahasa Indonesia)
Jenis mediasampul lunak

    

    Max Havelaar adalah sebuah novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda Edward Douwes Dekker). Novel ini pertama kali terbit pada 1860, yang diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru.

Novel ini terbit dalam bahasa Belanda dengan judul asli "Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij" (bahasa Indonesia: "Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda").

Roman ini ditulis oleh Multatuli hanya dalam tempo sebulan pada 1859 di sebuah losmen di Belgia. Setahun kemudian, tepatnya pada 1860, roman itu terbit untuk pertama kalinya.

        Di Indonesia, karya ini sangat dihargai karena untuk pertama kalinya inilah karya yang dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten. Max Havelaar adalah karya besar yang diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia. Di salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.

Hermann Hesse dalam bukunya berjudul: Die Welt Bibliothek (Perpustakaan Dunia) memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya. Bahkan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib dil sekolah-sekolah di Belanda.

HB Jassin menerjemahkan Max Havelaar dari bahasa Belanda aslinya ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1972. Tahun 1973 buku tersebut dicetak ulang.

Pada tahun 1973 Jassin mendapat penghargaan dari Yayasan Prins Bernhard. Dia diundang untuk tinggal di Belanda selama satu tahun.

Novel ini diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar pada tahun 1976 oleh Fons Rademakers sebagai bagian dari kemitraan antara Belanda-Indonesia. Namun film Max Havelaar tersebut tidak diperbolehkan untuk ditayangkan di Indonesia sampai tahun 1987.


Sumber : Wikipedia.

 

Sebuah Review Artikel Jurnal Insaniyat Islam dan Humaniora

Sumber Gambar : socialsamosa.com


Identitas Artikel.

Judul Artikel                   :   Patriarchy and Social Norms in Lipstick Under My Burkha

Penulis                             :   Deyan Rizky Amelia, Nadia Rukyati Hasanah, Sa'diah Nur Rohmah

Nama Jurnal (Publikasi)  :   Jurnal Insaniyat Islam dan Humaniora

Volume                             :  Volume 4.

Nomor                              :   Nomor 1, November 2019.

Halaman                           :    49-59 halaman.

DOI                                   :     10.15408 / insaniyat.v4i1.10345

URL                                :      http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/insaniyat/article/view/10345


        Adanya hirarki gender dalam kehidupan sosial antara laki-laki dan perempuan membuat kehidupan seseorang menjadi lebih terkekang. Patriarki atau superioritas laki-laki masih terus berkembang di dalam dunia bagian barat maupun bagian timur.  Sebuah sistem yang menguntungkan dan memprioritaskan laki-laki dapat disebut sebagai sistem patriaki. Perempuan memiliki kapasitas dan hak untuk melakukan perannya terhadap diri sendirinya baik dalam keadaan lajang atau sudah menikah. Dalam sistem sosial budaya dan agama, patriarki muncul sebagai ideologi yang diyakini bahwa laki-laki lebih berkuasa daripada perempuan, bahkan perempuan dianggap sebagai properti laki-laki. Dalam patriarki budaya, perempuan dianggap selalu taat pada regulasi yang sesuai dengan sosial norma dan apapun yang diperintahkan oleh laki-laki. Budaya patriaki masih terus terkonstruksi sehingga menjadikan perempuan terpenjara dalam kebebasan, seperti yang ada pada film  ‘Lipstick Under My Burkha’ sebuah film yang menentang masyarakat patriakal di India dengan bias industri film yang melawan perempuan.

        Film Lipstick Under My Burkha (2017) yang disutradarai oleh Alankrita Shrivastava berdurasi 117 menit. Dalam film tersebut, sutradara menggambarkan bahwa kekuatan laki-laki dan norma sosial mengontrol empat karakter utama kehidupan. Selain isu patriarki, isu lain dalam film ini adalah perihal norma sosial. Norma sosial merupakan kebiasaan umum yang menjadi tolak ukur perilaku dalam suatu kelompok masyarakat dan batas wilayah tertentu. Norma akan berkembang seiring dengan kesepakatan sosial masyarakat, itu juga sering disebut sebagai regulasi sosial. Menurut Berkowitz, teori norma sosial merupakan sebuah perilaku individu yang dipengaruhi oleh persepsi orang lain atau anggota kelompok sosial kita berpikir dan bertindak (Berkowitz, 2004). Norma sosial menjadi penghalang bagi individu yang mematuhi norma-norma ini.

      Konflik dalam film ini terjadi adanya masalah tentang kebebasan yang dihalangi oleh sistem patriarki dan norma sosial masyarakat yang dihadapi oleh empat karakter utama. Masalah ini nantinya akan menjadi konflik yang akan dikaji dalam artikel jurnal dengan menggunakan teori identitas dari Stuart Hall.  Menurut Stuart Hall terdapat dua macam karakter seseorang. Pertama adalah cara hidup seseorang dengan karakter sebagai diri sendiri (identitas makhluk atau subjektivitas) dan kedua, hidup dengan karakter dari legitimasi seseorang pada  “satu individu” sebagai wujud solidaritas serta ciri khas masyarakat. Dalam hal ini, Rehana Abidi, Leela, Shireen, dan Usha tokoh utama dalam film  mencoba mencari sendiri kebebasan dengan menjadi orang lain, di luar posisi terdepan mereka dalam keluarga atau dalam masyarakat

Hasil penelitian artikel jurnal ini menunjukkan bahwa keempat tokoh perempuan dalam film ini memiliki satu tujuan untuk berusaha menggapai impiannya berupa kebebasan untuk perempuan.  Mereka memiliki keinginan yang sama untuk melepaskan diri mereka dari segala bentuk penindasan. Kebebasan berpakaian sesuai keinginan mengacu pada Rehana, kebebasan untuk dicintai mengacu pada Shireen, kebebasan untuk memilih pasangan hidup mengacu pada Leela dan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka inginkan mengacu pada Usha. Sikap dan perilaku Empat karakter utama dalam film ini dibatasi oleh patriarki dan norma sosial. 

        Patriarki dalam film ini membatasi sikap dan tingkah laku tokoh yang mengacu pada kehidupan Rehana dan Shireen karena ada kekuatan laki-laki yang diwakili oleh sosok sang ayah dalam kehidupan Rehana dan sosok suami dalam kehidupan Shireen. Kemudian norma sosial muncul membatasi sikap dan tingkah laku di kehidupan Leela dan Usha, mereka berdua melakukan perbuatan asusila dan membuat keluarga merasa malu. Mereka ingin bebas seperti kisah Rosy yang diceritakan di novel. Mereka merusak aturan keluarga dan norma sosial karena merupakan bentuk negosiasi identitas mereka untuk mendapatkan identitas diri yang sebenarnya. 

        Problematika yang terjadi pada film ini menjadi bukti bahwa kehidupan perempuan masih sering di pandang pada sudut yang terlalu sempit di zaman yang seharusnya semua individu sudah harus merasakan kesetaraan. Konsep kesetaraan gender masih terlihat tabu dibeberapa kalangan, ini disebabkan karna mereka secara pribadi mungkin saja belum mengetahui secara penuh mengenai konsep kesetaraan. Disini lah feminisme dapat mendobrak sistem yang melakukan diskriminasi gender dan sistem patriaki yang masih terus langgeng. Dalam jurnal ini dibahas lebih lanjut mengenai sistem patriaki dan norma sosial seperti apa yang ada pada film ‘Lipstick Under My Burkha’ dengan menggunakan analisis dialog pada film tersebut.

        Sebagai kalimat akhir ada pesan yang dapat diambil dari pembahasan terkait artikel jurnal tersebut yaitu teruntuk kalian yang belum memiliki pasangan atau yang sedang menjalin hubungan dengan seseorang, ajak pasangan kalian diskusi mengenai cara pandang pasangan terkait patriaki, woman and manhood, serta femininity dan masculinity. Karena pasangan yang memiliki human decency dan logika sehat terkait problematic ini sangat penting untuk menghindarkan kita dari genggaman pasangan yang menomerduakan perempuan.


Referensi

Berkowitz, A. D. (2004). The Social Norms Approach: Theory, Research, and Annotated Bibliography. Social Norms Theory and Research, August, 1–47. www.alanberkowitz.com

Bisnis Kecil Kawula Muda 

    Terlihat sepele tetapi memiliki nilai yang berbeda ketiga digunakan pada kesempatan yang tepat, yaitu syal. Dalam pemakaiannya dahulu syal digunakan untuk menghangatkan atau melindungi bagian tubuh leher dari hawa dingin. Namun seiring perkembangan model, syal digunakan sebagai aksesoris favorit sebagai pelengkap pakaian yang memiliki keistimewaan tersediri dalam pemakaiannya. Di berbagai kesempatan syal dapat membuat penampilan menjadi lebih berwarna dan fashionable. Dengan hanya satu syal kita dapat menampilkan berbagai gaya, fungsi, dan kesan yang berbeda-beda.

    Kata ‘Syal’ berasal dari bahasa Persia dengan arti bahwa secarik kain yang dipakai secara longgar di atas bahu, tubuh bagian atas atau lengan. Jika ditelusur lebih jauh, asal mula ‘syal’ berasal dari Sayyid Ali Hamadani yang menciptakan syal pertama terbuat dari benang wol. Syal pertama yang dibuat oleh Sayyid Ali Hamadani ada di negara Kashmir. Kashmir merupakan sebuah dataran tinggi dan lembah indah di selatan pegunungan Himalaya yang sebagian mata pencaharian penduduknya beternak domba.

    Singkat cerita pada abad ke 14, ketika Sayed Ali berkunjung ke Ladakh, daerah sekitar Kashmir penghasil peternakan domba terbaik, di situ lah Sayyid Ali Hamadani mengembangkan pengetahuannya untuk membuat kerajinan tangan berupa syal. Bulu domba yang terkenal halus dan memiliki warna bagus menjadi kesempatan beliau untuk memanfaatkan kejeliannya dengan menciptakan sebuah syal. Berkat inovasi tersebut, pada tahun 2014 UNESCO menobatkan Sayeed Ali Hamadani sebagai tokoh berpengaruh dalam sejarah yang berperan mengubah Kashmir menjadi lebih baik, dari segi ekonomi, seni, dan budaya.

    Salah satu jenis syal yang ada di dunia yaitu Knit Shawl dan Fringe Shawl. Knit shawl atau syal rajut merupakan jenis syal yang sering kita jumpai di pasaran. Karena bentuknya yang simple, yakni berbentuk persegi panjang. Dengan lebarnya tidak lebih dari 20 cm dan panjang antara 170-200 cm, sehingga cocok untuk menghangatkan bagian leher tanpa menutupi baju. Syal ini umumnya dibuat dari bahan wol biasa, namun seiring perkembangan zaman, ada juga knit shawl yang terbuat dari wol sintetis. Selain itu, penggunaanya juga semakin luas, tidak hanya digunakan kala musim dingin tiba. Knit shawl juga seakan menjadi aksesoris wajib para supporter bola, karena ukurannya yang tidak terlalu lebar. Syal rajut biasanya kurang efektif untuk menghangatkan bahu sampai pinggang, sehingga masih butuh perlengkapan tambahan seperti jaket atau sweater. Sedangkan Fringe Shawl merupakan tergolong jenis syal yang unik, karena pada bagian pinggirnya (fringe) terdapat tambahan benang yang merumbai-rumbai. Saat pertamakali diciptakan, Syal ini bisa dipakai oleh pria maupun wanita.

Syal cantik dan anggun pada gambar di atas dapat kalian pesan melalui Authors Kina dengan proses pembuatan kurang lebih sekitar 3-4 minggu. Untuk ukuran dan motif dapat kalian sesuaikan dengan pilihan kalian sendiri. Tunggu apa lagi, bisa kece dengan sehelai syal, grab fast it now!

 

Referensi

Fewkes, Jacqueline H. (2008). Trade and Contemporary Society Along the Silk Road: An Ethno-history of Ladakh . Routledge Contemporary Asia. Routledge. pp. 44–45. ISBN 9781135973094

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Kacamata Pendengar Radio Widya Bahana Swara - Radio Streaming Perpustakaan Nasional RI
  • Ala Kadarnya Eksis Perpustakaan dengan Blogger
  • Media Sosialisasi Guna Kecakapan Literasi Bangsa
  • Menciptakan Sehelai Syal dengan Simpulan dari Satu Benang ke Benang Lainnya
S O O N
GalKin's

Categories

  • Bisnis Kawula Muda 1
  • Digital Library Marketing 1
  • esai literasi 2
  • Fiksi 3
  • Layanan Perpusnas 1
  • Museum 1
  • Pinjam Buku 3
  • Review artikel jurnal 1

Label

Bisnis Kawula Muda Digital Library Marketing esai literasi Fiksi Layanan Perpusnas Museum Pinjam Buku Review artikel jurnal

Tuliskan request kalian disini, segera!!!

Nama

Email *

Pesan *

Gamegaa16

Statistik

Pengunjung

Translate

Soal saya

Foto saya
K I N A
Hello, I'm twenty-one!
Lihat profil lengkapku

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates